August 28, 2009 MasDhika 0Comment

Perasaan marah benci dan sumpah serapah yang keluar ketika aku mengetahui betapa harga diri bangsaku di injak-injak oleh tetangga yang selalu saja ingin berbuat curang. Pagar pembatas saja sudah berkali kali dilanggar, tanah mulai diserobot, warisan leluhurku mulai di klaim sebagai milik mereka. Orang bilang mereka satu rumpun, orang bilang kami saudara, rumpun apa ? saudara dari mana ?


Kini mereka mulai menghinakan harga diri kami dengan menjadikan lagu kebangsaan kami sebagai bahan lelucon. Mereka yang tidak pernah tau arti perjuangan karena mereka merdeka karena pemberian. Aku masih ingat ketika kakekku menceritakan betapa mereka harus berjuang dan kakekku kehilangan sebelah tanngan untuk tetap menjaga sang merah putih berkibar dan Indonesia Raya berkumandang. Sekarang apa yang mereka perjuangankan dimentahkan oleh generasi mereka dengan membiarkan harga diri negeri dan bangsa ini diinjak injak oleh negara tetangga.

Barangkali benar ide Sukarno dulu untuk menggayang antek neokolim agar kelak mereka tidak menginjak injak kita seperti saat ini. Adakah Sukarno baru saat ini ? Sukarno-Sukarno baru yang lebih revolusioner meski bukan dari tah Sukarno. Sukarno baru yang mampu memjunjung tinggi haga diri bangsa ini dimata bangsa yang lain….

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku, Di sanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
Seburuk apapun, sereot apapun ini adalah rumahku, rumahmu, tempat tinggalku dan tempat tinggalmu. Adalah kewajibanku dan kewajibanmu untuk menegakkan kembali dan menjaganya untuk masa depan yang lebih baik dan untuk penghargaan akan perjuangan dimasa lalu demi kemerdekaan kita saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *